Kemaren gw abis perpanjang paspor lewat biro. Karena kebetulan mobil di jkt lg rusak, berangkatlah gw kesana naik angkot. Pas di sana, gw dianterin sama bosnya biro sana (alasannya sih anak buahnya lg pd keluar semua). Pas di mobil gw sempet tanya2 dikit ttg opsi nerusin S2 di luar negeri. Jadilah doi cerita panjang x lebar x tinggi ttg skul di luar negeri. Termasuk rate gaji kotor karyawan dg pendidikan S2 yg nyampe $8000 per bulan!!! Terbengong-bengonglah gw denger dongeng tuh org. Dia bilang kalo gaji bersih bisa nyampe $4500 - $5000 per bulan, gmn gaya hidup kita aja. Makinlah menjadi-jadi bengongnya muka gw.
Abis itu gw mikir, kalo semua org (termasuk gw) berpikiran utk kerja di luar negeri, trus siapa yg mau majuin negara ini? Gw secara pribadi punya pendapat kalo negara ini udh kekurangan bgt human resources yang kompeten buat bikin negara ini makmur. Yg gw maksud kompeten bkn dr segi intelegensi, krn gw termasuk org yg percaya bgt kalo org-org indonesia tuh pinter-pinter bgt (iyalah, mana bisa menang olimpiade fisika kalo gak pinter??). Yg gw maksud tuh indonesia kekurangan org2 yg jujur dan cinta sama negerinya sendiri.
Jd gw udh ngambil keputusan kalo emang kerja di luar negeri paling maks. 5 thn aja ah, jd penghasilan gw ntar bisa masuk ke kas negara (mudah-mudahan ntar duit negara gak dikorupsi lg…). Hidup negeriku!
Tuesday, February 17, 2009
Devotion
Minggu siang. Lagi santai-santai di rumah abis makan siang sambil ngelus-ngelus perut yg penuh. Tiba-tiba di metro tv ada acara "kick andy" yang lg ngebahas tentang guru-guru yang mengajar di daerah terpencil. Menarik juga nih topiknya, iseng-iseng deh nonton.
Dan gue gak nyangka, ternyata keadaannya bener-bener mengenaskan. Guru-guru itu banyak yang cuma dibayar dengan beras, malah beberapa dari mereka kadang-kadang nggak dibayar. Tapi di balik semua kesengsaraan itu, gue bisa ngeliat binar bahagia di mata mereka. Dan gue sadar kebahagiaan itu muncul dari kepuasan mereka melakukan sesuatu dengan mengikuti hati nurani mereka. Bagaimana semua hambatan dan rintangan itu nggak menutup hati mereka untuk memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa ini.
Ironi. Itu yang gue cerna setelah nonton acara itu. Ironi, karena guru-guru itu yang pendidikannya paling tinggi setingkat smu (bahkan beberapa cuma lulus sd), menurut gw justru lebih pintar daripada profesor-profesor manapun di negara ini. Kenapa? karena mereka nggak seperti orang-orang terpelajar lain yang selalu debat kusir tentang bagaimana memperbaiki negara ini, guru-guru itu sadar betapa kemajuan negara ini bergantung kepada sebaik apa pendidikan bangsa ini. Apalah gunanya ekonomi yang makmur, politik yang stabil, ketika bangsa ini nggak punya orang-orang yang cukup pintar untuk membangunnya?
Dedikasi. Itu yang gue lihat dari binar mata guru-guru itu. Gue melihat sebuah dedikasi yang jauh lebih nyata dibanding politikus-politikus yang mengklaim dirinya akan membuat perubahan bagi bangsa ini. Jauh lebih mengharukan daripada pidato orator-orator yang meneriakan kata-kata perubahan. Dengan segala keterbatasannya mereka mengajarkan lebih dari sekedar berhitung atau bahasa, tapi juga nilai moral. Bener-bener menjelaskan kenapa profesi mereka dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa.
Inspirasi. Itu yang gue dapet dari pengabdian mereka. Inspirasi untuk juga berusaha menemukan jalan menuju perubahan yang lebih baik. Inspirasi untuk merasa malu atas apa yang belum pernah gue lakukan. Inspirasi untuk menjadi orang sepintar mereka, lebih pintar daripada mereka yang mengenyam pendidikan sangat tinggi tapi dedikasinya hanya diperuntukkan untuk jabatan dan kemakmuran pribadi. Dan terakhir, inspirasi untuk selalu jujur kepada hati nurani, tanpa harus dikerutkan oleh segala kesulitan yang mungkin terjadi...
Dan gue gak nyangka, ternyata keadaannya bener-bener mengenaskan. Guru-guru itu banyak yang cuma dibayar dengan beras, malah beberapa dari mereka kadang-kadang nggak dibayar. Tapi di balik semua kesengsaraan itu, gue bisa ngeliat binar bahagia di mata mereka. Dan gue sadar kebahagiaan itu muncul dari kepuasan mereka melakukan sesuatu dengan mengikuti hati nurani mereka. Bagaimana semua hambatan dan rintangan itu nggak menutup hati mereka untuk memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa ini.
Ironi. Itu yang gue cerna setelah nonton acara itu. Ironi, karena guru-guru itu yang pendidikannya paling tinggi setingkat smu (bahkan beberapa cuma lulus sd), menurut gw justru lebih pintar daripada profesor-profesor manapun di negara ini. Kenapa? karena mereka nggak seperti orang-orang terpelajar lain yang selalu debat kusir tentang bagaimana memperbaiki negara ini, guru-guru itu sadar betapa kemajuan negara ini bergantung kepada sebaik apa pendidikan bangsa ini. Apalah gunanya ekonomi yang makmur, politik yang stabil, ketika bangsa ini nggak punya orang-orang yang cukup pintar untuk membangunnya?
Dedikasi. Itu yang gue lihat dari binar mata guru-guru itu. Gue melihat sebuah dedikasi yang jauh lebih nyata dibanding politikus-politikus yang mengklaim dirinya akan membuat perubahan bagi bangsa ini. Jauh lebih mengharukan daripada pidato orator-orator yang meneriakan kata-kata perubahan. Dengan segala keterbatasannya mereka mengajarkan lebih dari sekedar berhitung atau bahasa, tapi juga nilai moral. Bener-bener menjelaskan kenapa profesi mereka dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa.
Inspirasi. Itu yang gue dapet dari pengabdian mereka. Inspirasi untuk juga berusaha menemukan jalan menuju perubahan yang lebih baik. Inspirasi untuk merasa malu atas apa yang belum pernah gue lakukan. Inspirasi untuk menjadi orang sepintar mereka, lebih pintar daripada mereka yang mengenyam pendidikan sangat tinggi tapi dedikasinya hanya diperuntukkan untuk jabatan dan kemakmuran pribadi. Dan terakhir, inspirasi untuk selalu jujur kepada hati nurani, tanpa harus dikerutkan oleh segala kesulitan yang mungkin terjadi...
Subscribe to:
Posts (Atom)

.jpg)